Episode 1: Trotoar yang Berbisik

Episode 1: Trotoar yang Berbisik

Langit senja merunduk pelan di atas kota yang tak pernah benar-benar asing.
Ranya berdiri di pinggir trotoar yang sudah mulai retak oleh waktu—tempat yang dulu menjadi saksi sunyi percakapan-percakapannya dengan Arga.
Angin membawa harum tanah basah, menyusup ke sela-sela memori yang belum sempat dibereskan.

Ia menjejakkan kaki.

Langkah pertama terasa ringan, seperti salam dari masa kini.
Langkah kedua, dedaunan gugur menyambutnya, menari lirih seolah tahu siapa yang datang.
Langkah ketiga, suara kendaraan di kejauhan seperti gema dari hari-hari biasa yang telah berlalu.

Lalu ia melangkah untuk keempat kalinya.

Dan waktu…
bergetar.

“Ranya…”

Suara itu—samar, nyaris seperti bisikan dedaunan atau desir angin yang tak punya nama. Tapi telinga dan hatinya mengenalnya dengan pasti.

Itu suara Arga.

Ia berhenti. Menoleh. Tapi trotoar hanya menawarkan diam dan bayangan lampu jalan.
Jantungnya berdetak tak teratur, seolah detik-detik lampau kembali hidup, memeluknya dari belakang.

Dulu, di trotoar ini, mereka menunggu bus terakhir.
Dulu, Arga selalu melangkah di sisi kiri, dan Ranya di kanan.
Dulu, Arga menghilang tanpa kata pamit—dan sejak itu, langkah Ranya selalu terasa pincang.

Ia menarik napas panjang. Kali ini, ia berani menatap trotoar yang dulu ia hindari.
“Apa kau masih di sini?” bisiknya, bukan ke angin, tapi ke kenangan.

Dan entah kenapa, ia merasa trotoar itu—yang telah kehilangan cat pembatas dan dihiasi pecahan lampu kecil—menjawabnya. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan rasa:
sebuah getar kecil di dada, seperti pertemuan tak sengaja antara rindu dan luka yang belum sembuh.


Malam mulai jatuh perlahan.
Tapi Ranya tidak pulang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menelusuri kembali trotoar itu, menghitung ulang langkah, dan membiarkan hatinya membuka pintu yang lama tertutup:
pintu menuju kenangan yang selama ini berbisik, menunggu didengar.


“Terkadang, kenangan tak hilang. Mereka hanya menunggu langkah keempat kita.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#adstera #adstera