
Hujan turun pelan sore itu—bukan badai, tapi semacam tangis kecil yang malu-malu, seperti langit sedang mengenang seseorang yang belum sempat dipeluk.
Ranya berdiri di seberang trotoar, memandangi gedung tua yang berdiri seperti perasaan yang tak pernah selesai: kosong di dalam, tapi penuh gema di dinding-dindingnya.
Gedung itu dulunya adalah perpustakaan tua.
Tempat Arga suka menghabiskan waktu membaca buku-buku filsafat yang tak pernah benar-benar selesai ia pahami.
Kini gedung itu terbengkalai, jendelanya pecah, catnya mengelupas seperti kulit masa lalu yang tak sempat dirawat.
Tapi hari ini… ada sesuatu yang berbeda.
Di jendela lantai dua, Ranya melihatnya—sesosok bayangan.
Tak jelas. Tapi siluetnya… terlalu familiar.
Tinggi, tegap, berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Sama persis seperti cara Arga berdiri saat gelisah.
Langkah Ranya segera membelah genangan.
Ia menyeberang dengan jantung yang berdentum, seolah setiap detik adalah tabuh yang memanggil masa lalu untuk muncul kembali.
Tangannya menyentuh gagang pintu besi yang berkarat.
Pintu itu terbuka dengan erangan kecil, dan ia masuk dengan napas tercekik antara harap dan takut.
“Dari mana kamu tahu aku di sini?” suara di kepalanya bertanya sendiri.
Tapi yang lebih penting—siapa yang ada di sana?
Tangga kayu berderit di bawah langkahnya. Setiap anak tangga terasa seperti naik ke ingatan yang paling rapuh.
Dan saat ia mencapai lantai dua… ruang itu kosong.
Bayangan itu menghilang.
Tapi yang tertinggal adalah aroma kopi—kopi tubruk yang dulu biasa Arga minum, tanpa gula, hitam dan pahit seperti masa kecilnya.
Aroma itu melayang-layang di udara, menusuk jauh ke dalam memorinya.
Di lantai, ia melihat sebuah cangkir tua. Masih hangat.
Dan di sampingnya—kertas kecil bertuliskan:
“Kenangan tak pernah pergi. Ia hanya mencari waktu yang tepat untuk menyapa.”
Ranya mendekap dirinya sendiri.
Rasa rindu yang ia simpan rapat mulai meluap, menyesaki dada yang selama ini ia kunci rapat.
Arga belum benar-benar hilang.
Atau setidaknya… seseorang ingin membuatnya berpikir begitu.
“Kadang yang kita cari tidak bersembunyi. Ia hanya menunggu kita berani mencarinya dengan seluruh hati.”