
Malam itu, langit tak berbintang.
Langit seperti lembaran hitam kosong, sama seperti kepala Ranya yang dipenuhi tanya—tentang lelaki tua di taman, tentang surat-surat yang muncul seperti skenario, dan tentang Arga… yang terus hadir tanpa wujud, namun nyatanya tak pernah pergi.
Di kertas itu, tertulis satu nama:
Kenanga.
Dan satu kalimat: “Jika kau ingin tahu kenapa aku menghilang, temuilah dia.”
Nama itu menampar ingatan lama.
Kenanga adalah nama seorang siswi di angkatan atas mereka dulu—anggun, pendiam, sering sendiri di taman sekolah. Tak banyak yang mengenalnya. Tapi Ranya selalu mengingat satu hal: mata Kenanga pernah menatap Arga lebih lama dari yang seharusnya.
Alamat di surat membawa Ranya ke pinggiran kota—sebuah rumah kecil berwarna hijau tua, dikelilingi pohon kenanga yang berbunga mekar.
Aroma bunga itu menyambutnya sebelum pintu sempat diketuk.
Tok. Tok.
Pintu dibuka.
Dan untuk pertama kalinya, Ranya melihat Kenanga dari dekat setelah bertahun-tahun. Wajahnya tak banyak berubah—masih menyimpan rahasia yang tak bisa ditebak.
“Kau Ranya?” suara Kenanga tenang.
“Iya. Arga… menyuruhku menemuimu.”
Kenanga mengangguk pelan, lalu mempersilakannya masuk.
Mereka duduk berhadapan, dua perempuan dengan masa lalu yang sama, tapi cerita berbeda.
Kenanga menatap Ranya lama, lalu berkata:
“Arga tidak menghilang. Dia disembunyikan.”
Dada Ranya mengencang. “Apa maksudmu?”
Kenanga menarik napas panjang, lalu membuka laci kecil di meja ruang tamu. Ia mengeluarkan foto lama—foto Arga dengan mata lebam dan surat kabar yang dilipat.
Berita kecelakaan. Tapi bukan milik Arga. Melainkan milik adik Kenanga.
“Adikku… diserempet motor waktu itu. Arga menyelamatkannya. Tapi kejadian itu membuatnya jadi sasaran tuduhan, karena pengendara motor itu tewas. Arga dituduh sebagai penyebab karena kesaksiannya tak didengar—semua menyalahkannya.”
Matanya berkaca.
“Dan karena aku berutang nyawa padanya, aku menyembunyikannya. Kami sepakat agar ia ‘menghilang’.”
Ranya menunduk, tubuhnya gemetar.
“Kenapa… dia tak cerita?”
“Karena kalau dia cerita, kau akan ikut terbakar. Dan dia tak mau itu terjadi.”
Sunyi mengisi ruang. Tapi bukan sunyi yang kosong. Ini sunyi yang padat—penuh luka, cinta, dan pengorbanan.
Akhirnya, Kenanga menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Ini milikmu. Dia menitipkan ini sejak lima tahun lalu. Dia bilang… suatu hari, kamu akan datang.”
Di dalam kotak itu ada kalung, dan sepucuk surat lain.
“Aku tak pernah pergi, Ran. Aku hanya berjalan ke tempat yang jauh agar kamu tetap bisa berjalan di sini dengan tenang.”
“Jika langkahmu sampai ke rumah Kenanga, maka kau sudah cukup kuat untuk tahu: aku masih mencintaimu, tapi cinta ini memilih diam, agar kamu tetap bisa hidup.”
Ranya memejamkan mata.
Langkah keempat kini terasa berat.
Tapi bukan karena beban. Karena ia tahu, ia sedang menapak jejak yang dulu tertinggal.
“Beberapa cinta tidak butuh pengakuan, cukup dikenang dalam langkah yang tak berhenti.”