Episode 6: Titik Nol

Episode 6: Titik Nol

Hari itu, matahari seolah segan menampakkan wajahnya.
Awan menggantung berat di langit, seperti perasaan Ranya—penuh, tak bernama, dan nyaris tumpah.

Kotak kayu di pangkuannya masih terbuka. Kalung perak kecil berukir huruf A & R menggantung di jari telunjuknya, berayun-ayun seperti waktu yang ingin kembali.
Tapi ia tahu: tidak semua bisa diulang.
Dan tidak semua jawaban bisa ditemukan dengan pertanyaan.

Kecuali satu:
Mengapa Arga harus memilih diam?


Kenanga menyebut satu nama sebelum Ranya pulang malam itu.
Nama yang membuat hatinya mengepal: Pamannya sendiri—Pak Wirya, seorang pensiunan polisi yang dulu dikenal baik, tapi diam-diam menyimpan cerita yang busuk.

Ranya menelusuri jejak, membuka dokumen lama, surat kabar, hingga akhirnya menemukan berkas yang tak pernah ia tahu ada:
laporan intervensi kasus kecelakaan dengan nama Arga sebagai saksi kunci, yang digantikan dengan kesaksian fiktif dari orang yang ‘dibayar’.

Dan semuanya terhubung ke satu titik:
Pak Wirya-lah yang menekan Arga untuk menghilang, agar nama baik keluarganya tak tercoreng karena anak salah satu pejabat terlibat kecelakaan fatal.

Ranya berdiri di depan rumah tua milik pamannya, tempat ia menghabiskan masa kecilnya—tempat di mana semua tampak baik-baik saja.
Tapi hari ini, kebaikan itu retak.

Ia masuk tanpa mengetuk.

“Pak,” suaranya tegas, “kenapa kalian menyuruh Arga pergi?”

Pak Wirya terdiam.
Lama.

Lalu dengan suara berat, ia berkata,
“Karena jika tidak, dia akan dihancurkan. Hidupmu juga. Kami hanya ingin melindungimu.”

“Dengan mengorbankan hidupnya?”

Diam lagi. Kali ini lebih sunyi.

“Dia anak baik. Tapi sistem… tidak butuh anak baik, Ran. Sistem hanya butuh yang tunduk.”

Air mata Ranya jatuh tanpa isak.
Karena saat itu juga ia sadar: titik nol bukan tempat Arga berdiri.
Titik nol adalah tempat ia memutuskan untuk berdiri sendiri—melawan, meski ditinggalkan.


Sore harinya, ia kembali ke trotoar itu.
Langkahnya terasa berbeda.
Lebih tenang, tapi penuh.
Dan di langkah keempatnya, ia berdiri diam, lalu berkata:

“Ga, aku tahu sekarang. Kau bukan pergi. Kau sedang menjagaku, dengan cara paling diam.”

Ia membuka kotak kecil yang lain—yang ia simpan sejak SMA.
Dan menaruh surat baru di bawah batu kecil di trotoar itu.

Isinya hanya satu kalimat:

“Hari ini, aku tidak lagi menunggu. Tapi aku berjalan… bersamamu, di dalam setiap langkahku.”


“Kadang, mencintai berarti berani melangkah ke titik nol—tempat semua rasa kehilangan bertemu dengan keberanian untuk memulai lagi.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#adstera #adstera