
Pagi itu, langit seperti kertas yang belum ditulis.
Putih. Sunyi. Siap menerima cerita baru.
Ranya berdiri di ujung trotoar kenangan, tempat semua ini dimulai.
Tempat di mana hatinya dulu patah tanpa suara, tempat di mana langkah keempatnya membuka pintu yang selama ini terkunci.
Di tangannya, ada surat terakhir. Bukan dari Arga, tapi darinya—untuknya.
Untuk cinta yang tidak pernah mati, hanya berganti bentuk.
Ia menaruh surat itu di bawah batu kecil yang dulu menjadi tempat mereka menyembunyikan koin keberuntungan.
Lalu ia mundur beberapa langkah, dan mulai berjalan maju—menghitung lagi, untuk terakhir kali.
Langkah pertama: ia tak lagi membawa beban.
Langkah kedua: kenangan tak lagi menggigit, hanya mengelus pelan.
Langkah ketiga: ia tersenyum. Bukan karena rindu, tapi karena menerima.
Langkah keempat…
Angin tiba-tiba berembus hangat.
Lembut, seperti pelukan.
Dan di balik langkahnya, ia mendengar jejak lain—pelan, tak bersuara, tapi nyata.
Seolah ada yang mengikuti, menjaga jarak, tapi tak pernah benar-benar pergi.
Ia menoleh…
tak ada siapa-siapa.
Tapi ia tahu.
Ia tahu.
Arga tidak harus muncul dalam wujud untuk hadir.
Karena kini, setiap langkah yang ia ambil… ada jejak Arga di belakangnya.
Di hatinya.
Di hidup yang terus berjalan.
Beberapa cinta tak menuntut akhir yang bersama.
Tapi ia hadir dalam keberanian untuk tetap melangkah, meski sendiri.
Dan dalam diam yang penuh makna, cinta itu berbisik:
“Di balik langkahmu, ada aku.”