Episode 2: Surat yang Tak Pernah Dikirim?

Episode 2: Surat yang Tak Pernah Dikirim?

Rumah itu berdiri seperti rahasia tua yang enggan dibuka.
Jendela-jendelanya berdebu, pintunya mengelupas dimakan usia, dan pekarangannya dipenuhi rerumputan liar yang tumbuh semaunya.
Tapi bagi Ranya, rumah itu tak ubahnya album foto hidup—setiap sudutnya menyimpan fragmen yang pernah hangat, pernah hidup, pernah ia genggam bersama Arga.

Ia masuk pelan, kunci lama yang dulu disimpan ibunya ternyata masih bekerja.
Udara di dalamnya basah dan sunyi. Aroma kayu lapuk bercampur debu menyambutnya seperti kenangan yang diam-diam menanti dipanggil kembali.

Langkahnya membawanya ke meja kecil di pojok ruang tamu.
Meja tempat Arga dulu sering duduk—menulis, menggambar, atau sekadar menatap hujan.
Laci di bagian bawahnya tersangkut, tapi dengan sedikit paksa, akhirnya terbuka.

Di dalamnya, tergeletak sebuah amplop lusuh berwarna gading.
Tanpa perangko. Tanpa alamat.
Hanya satu nama tertulis dengan tinta biru yang telah memudar:

“Untuk Ranya (jika kau menemukan ini suatu hari nanti)”

Jantungnya mengepal.

Tangan Ranya gemetar saat membuka lipatan kertas di dalamnya.
Tulisannya khas Arga—sedikit miring ke kanan, huruf ‘t’-nya tak pernah disilang, dan selalu ada titik ganda di akhir kalimat.
Ia membaca:


Ranya,
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah gagal menjaga janji.
Aku minta maaf karena tak sempat bilang apa-apa.
Tapi mungkin, diam adalah satu-satunya kata yang bisa melindungimu dari luka yang lebih besar.
Bukan karena aku tak mencintaimu. Tapi karena cinta ini tak cukup untuk menghadapi dunia yang sedang menuduhku.

Ada hal-hal yang tak bisa aku ceritakan, bukan karena rahasia, tapi karena belum waktunya kau tahu.
Dan jika kelak langkahmu menuntunmu kembali ke trotoar itu, mungkin kau akan mulai mengerti:
Langkah keempat itu bukan sekadar langkah—ia adalah panggilan dari yang tertinggal.

Maafkan aku. Aku mencintaimu. Selalu.
—Arga


Air mata jatuh satu per satu, tanpa aba-aba.

“Menuduh?” bisik Ranya. “Siapa yang menuduhmu, Ga?”

Surat itu seperti membuka pintu baru—bukan ke jawaban, tapi ke pertanyaan yang lebih dalam.
Ia menatap trotoar dari balik jendela rumah itu.
Seolah-olah trotoar itu tersenyum samar, seolah berkata:

“Ini baru permulaan, Ranya.”


“Tak semua kata sempat dikirim. Tapi cinta… selalu menemukan jalannya pulang.”


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#adstera #adstera