
Pagi merekah perlahan, membawa cahaya lembut yang menembus sela-sela tirai kenangan.
Ranya duduk di bangku kayu depan rumah tua Arga, masih memandangi cangkir kopi yang ia bawa pulang dari gedung perpustakaan kemarin.
Wangi pahitnya telah memudar, tapi jejaknya masih tertinggal kuat di dalam dadanya.
Satu hal pasti: ia tak bisa lagi menunggu.
Langkah-langkah yang ia ambil selama ini terasa menggantung—tak selesai, tak bulat.
Ia ingin tahu, ingin mengerti, ingin menjemput kisah yang tertinggal di setengah jalan.
Hari itu, ia mengenakan jaket Arga yang dulu ia simpan diam-diam. Di saku dalamnya, ada secarik peta kecil yang dulu mereka gambar bersama—menandai tempat-tempat yang jadi bagian dari kisah mereka.
Dan dari semua tempat, hanya satu titik yang belum pernah mereka datangi:
“Taman Kenanga – Titik Empat.”
Ia berjalan.
Langkah pertama: taman mulai terlihat, sepi dan lembab, tapi damai.
Langkah kedua: ada bangku tua di bawah pohon kenanga, bunga-bunganya jatuh satu-satu, seperti air mata yang tahu tempat jatuh yang tepat.
Langkah ketiga: suara angin menyingkap ranting-ranting, dan terdengar suara kursi berderit.
Langkah keempat…
Ia melihat seseorang duduk membelakangi.
Tubuhnya seperti Arga, tapi lebih kurus, lebih rapuh. Ia menggenggam sesuatu—seperti foto… atau surat?
“Arga?”
Suara Ranya lirih, nyaris pecah.
Orang itu menoleh perlahan.
Tapi bukan Arga.
Seorang lelaki tua, matanya sendu tapi hangat. Ia menatap Ranya seolah mengenalnya.
“Kau pasti Ranya,” katanya lembut.
Ranya mengerutkan dahi. “Bagaimana Anda tahu nama saya?”
Lelaki itu tersenyum, lalu mengulurkan selembar kertas.
“Arga menitipkannya padaku. Dia bilang, ‘Jika Ranya berhasil menemukan langkah yang tak selesai, maka ia siap menerima jawaban terakhir.’”
Tangan Ranya gemetar saat menerima kertas itu.
Tulisannya… tulisan Arga. Dan di bawahnya, satu kalimat yang membuat hatinya seperti dihujani oleh semua emosi sekaligus:
“Langkah terakhir bukanlah perpisahan, Ranya. Tapi awal untuk pulang.”
Dan saat itu, ia tahu… ini bukan hanya tentang pencarian.
Ini tentang keberanian untuk berjalan, meski jalannya tak lagi ditemani.
“Beberapa langkah memang harus diselesaikan sendirian. Tapi itu bukan berarti kita benar-benar sendiri.”